Lesson #1: Simple Square Sashiko

Ternyata sudah hampir dua bulan saya tidak mengisi blog ini. Waktu berlalu begitu saja jika banyak tugas yang harus dikerjakan. Bulan lalu, saya mengisi klinik-menggantikan teman saya yang keluar kota, walaupun hanya 10 hari, tapi rupanya cukup membuat saya terlena dalam kesibukan karena job transletan saya lumayan banyak setiap harinya dan menyita waktu.

Jadi duduk di depan laptop setiap saat tapi tidak bisa meng-update blog. Dan bulan ini, saya awali dengan merencanakan birthday party di sekolah untuk si kecil. Ini pertama kalinya ultahnya dirayakan bersama teman-teman, kami selalu merayakannya setiap tahun tahun hanya di rumah saja dengan satu lilin di atas cupcake atau irisan cake.

Paling tidak, tahun ini io bisa menikmati rasanya ultah bersama teman-teman di sekolah, doanya lebih banyak juga. Karena sekolah anak saya berbasis agama islam, jadi ultah dirayakan dengan berdoa. It’s a good thing to save budgets-hehe, tapi tentu saja kembali ke pilihan ortu masing-masing yaa ingin dirayakan seperti apa. Saya mah merasa kebersamaan dengan teman-teman dan berdoa adalah hal yang cukup menyenangkan untuk io.  

Anyway, hari ini saya full mentranslet dan akhirnya memutuskan untuk break sebentar dan membuka blog, having a great time writing. So let’s begin! 

Saya sudah pernah menyebutkan sedikit tentang sashiko di postingan ini dan berjanji akan memberikan tutorial tentang sashiko.

Sebenarnya ada banyak motif kain yang cantik-cantik di luar sana, tinggal pilih, tapi ada kalanya saya merasa jengah jika kain yang saya miliki ternyata juga dimiliki oleh orang lain, istilahnya best seller atau kasarnya, pasaran.

My AHA moment terjadi pada 2013, saat masih baru belajar menjahit menggunakan mesin, saya berpikir bahwa saya harus membuat desain sendiri atau paling tidak sesuatu yang berbeda dan jika orang ingin menyamainya, perlu berusaha terlebih dahulu.

Dari sekian banyak alternatif yang tersedia, mulai dari mendesain kain sendiri dan menyerahkannya pada perusahaan printing kain, atau memproduksi sendiri menggunakan pewarna ramah lingkungan seperti yang dilakukan oleh mba pimpi dari sawokecik, saya memilih jahitan dekoratif sashiko, jahit jelujur adalah seninya. 

Pertama kali melihat sashiko di Pinterest, saya berpikir “ah, jahit jelujur biasa aja. Pasti bisa. Let’s try!” Tapi ternyataaa…sebelum bisa enjoy menjahit, saya harus bersusah payah dulu menggambar pola yang njelimet, pernah terpikir untuk nge-print saja pada kain, tapi ternyata susah juga kalau kain yang ingin digunakan besar-waktu itu saya ingin langsung membuat tas-haha! Inilah namanya sombong. Dan akhirnya, saya menyerah, mencoba menikmati proses mengukur, menggaris, dan akhirnya, menjahit. 

Siapa yang sangka kalau ternyata, menjahit sashiko itu menyenangkan dan very therapeutic. Simpel-tidak perlu alat seperti pemidangan, cukup jarum dan benang plus gunting. Abaikan saja bagian mengukur dan menggaris kain itu..haha!

You have to fight with yourself first before enjoying sashiko.

Untuk memulai, pelajaran pertama kita adalah membuat pola simple square [kotak-kotak]. Banyak teman-teman yang bertanya via instagram tentang benang yang digunakan untuk menjahit sashiko ini. Sebenarnya, sashiko ini memiliki benang dan kain khusus, katun juga tapi lebih lembut dan tebal-agak susah yaa dicari di Indonesia. Apalagi benang sulam untuk sashiko ini memang berdesain khusus. Biasanya sashiko dibuat pada kain atau menggunakan benang berwarna indigo-pewarnanya alami.

Tapi karena keterbatasan tersebut, daripada kita tidak jadi mengaplikasikannya-anggap saja sebagai eksperimen, maka teman-teman bisa menggunakan kain linen polos berwarna natural atau blacu; benangnya bisa menggunakan benang sulam dmc [jika ingin hasil jahitannya lebih tebal] atau benang jahit [jika ingin jahitannya lebih tipis dan petite]. 

Jadi, alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pelajaran sashiko dasar kali ini antara lain:

  • kain linen atau blacu ukuran 13 x 13 cm – buat pola terlebih dahulu pada kertas yang agak tebal
  • benang sulam dmc atau benang jahit biasa – warna sesuai selera
  • staplek kain atau viselin yang tipis
  • jarum jahit dan gunting
  • pensil/pulpen biasa dan penggaris

Tahapannya : 

  1. Jiplak kertas pola pada kain. Gunakan penggaris dan pensil/pulpen untuk mengukur dan membuat tanda dengan jarak 0,5 cm di tepi setiap sisi kain. Jadi ada 4 sisi karena polanya persegi. Hubungkan setiap tanda tersebut, menjadi garis batas dalam.
  2. Buat tanda lagi dari setiap sudut garis batas-dalam dengan jarak 2 cm. Lakukan di keempat sisi kain.
  3. Hubungkan setiap tanda tersebut. Hasil akhirnya adalah garis kotak-kotak berukuran 2 x 2 cm.
  4. Mulai menjahit. Silahkan lihat video di bawah ini untuk tutorial menjahit sashikonya yaa
  5. Setelah jahitan selesai, tutup sisi buruk kain dengan staplek atau viselin dengan cara menyetrika. Hal ini dilakukan agar jahitan sashikonya tidak terurai.

*Note: Bagian yang bergaris-garis adalah sisi buruk kain. Bagian yang polos tanpa tanda pulpen/pensil adalah sisi baik kain].

Sampai sekarang saya masih optimis bahwa suatu hari nanti, kemampuan saya membuat video tutorial akan lebih baik. hehe..

Kain sashiko ini bisa digunakan seperti kain bermotif pada umumnya. Dalam postingan berikutnya, saya akan menguraikan tutorial sederhana menggunakan kain ber-sashiko yang diuraikan dalam postingan ini, silahkan membuat dua lembar kain ber-sashiko ini, dengan ukuran yang sama. Ditunggu yaa

 

Happy #sashiko #sewtherapy

momenio.com

1,478 total views, 2 views today

2 Comments

  1. Menginspirasi mbak. Ditunggu tulisan dan video berukutnya yaaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *